Candi (sumber) Rawan, Situs Budha di Singosari Malang

Narsis sedikit Didepan pintu masuk

Narsis sedikit
DIdepan pintu masuk


Masbro mbaksis…
Usai sarapan dan nyuci² 😀 , saya ada waktu luang. Bingung mau kemana. Mau jalan² kok isi dompét nipis, tapi kadung pingin jalan-jalan sembari njeprét. Wahhh…asik wis, ada pilihan destinasi paling dekat dengan rumah. Sudah beberapa kali kesana, tapi ya gak apa², dari pada jauh dan butuh sangu banyak :mrgreen: Perbekalan njepret sudah ready. Pasang holder di Supri merah untuk pasang GPS dengan aplikasi Navitel 😀 Terlihat Candi Sumberawan tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya 3,9 km saja. Kalau dari Candi Singosari +- 6km. Sip. Start engine…bablas.
image

Jalan baru untuk mobil. Jalan lain masih setapak

Jalan baru untuk mobil. Jalan lain masih setapak


Jalan kesana lumayan bagus, beraspal. Saya mengambil jalan sesuai “petunjuk” GPS, yaitu terdekat 🙂 Jalan naik meskipun tidak terlalu menanjak. Beberapa menit kemudian saya sudah sampai di desa Toyomarto. Jalan masuk yang kali ini saya pilih adalah relatif baru. Lumayan lebar, bahkan mobil juga bisa masuk kesana. WOW…Tapi jalan makadam dengan lebih banyak didominasi oleh lumpur ini lumayan mengerikan kalau pas hujan. Tanah lembab tapi tidak hujan seperti saat nyobamoto.com ini lewat saja sudah sedikit bikin berdebar. Tapi asik lah pokoknya.

Tiba di kawasan mata air atau sumber ini suasana cukup ramai. Ada sekolah yang sepertinya sedang mengadakan diklat disana. Sedikit melewati jalan setapak akhirnya saya memarkir motor ini bersama yang lain. ada beberapa warung sederhana yang menjual bakso dan gorengan sebelum masuk jalan setapak ke arah pintu masuk candi. Sementara di selatan parkiran ada toilet. Cukup lengkap untuk sebuah kawasan yang ada di kaki lereng gunung Arjuna ini. Saya mempersiapkan kamera dan sempat ambil foto sebelum masuk dan mengisi buku tamu di pos jaga 🙂
Candi Sumberawan - Stupa Sumberawan -

Candi Sumberawan
– Stupa Sumberawan –


Terlihat Candi ini kecil dibandingkan dengan candi-candi yang pernah saya lihat sebelumnya. Bahkan untuk di sekitaran kota Malang sendiri. Candi ini “hanya” berukuran 6x6meter. Bujursangkar dibagian bawah dan diatasnya terdapat semacam stupa sebagaimana candi-candi Budha. Itupun tidak ada semacam tangga dari bagian bujur sangkar bawah untuk naik ke bagian stupanya. Jadi candi ini memang tidak seperti layaknya candi-candi yang lain, bisa di “daki”. Batuan yang dipakai juga relatif sama dengan candi-candi yang lain. Posisinya sendiri terletak di sebelah selatan dari keseluruhan area yang berpagar kawat berduri. Meski dikelilingi oleh rumput hijau, tapi di kanan kiri terdapat jalan berbatu yang relatif rata agar tidak selalu merusak rumput-rumput hijau disana. Disebelah selatan sebelah selatan paling timur ada bangunan kecil dibawah pohon, entah berfungsi untuk apa, tapi didalamnya terlihat air jernih mengalir. Sementara dibagian selatan tapi sisi sebelah barat ada cungkup terbuat dari kayu, sayang terkunci pagarnya. Sehingga nyobamoto tidak bisa masuk melihat detail plus njepret 😀 Tebak’an saya, fungsinya mungkin untuk bersemedi atau sejenisnya lah 🙂
Tempat semedi atau meditasi (cmiiw)

Tempat semedi atau meditasi (cmiiw)


Dibagian utara tengah ada tempat semacam altar pemujaan, mungkin disini dahulu Prabu Hayam Wuruk atau yang lain, melakukan ritual pemujaan. Terlihat ada beberapa dupa yang saat ini tersisa mungkin juga masih ada yang memanfaatkannya. Di sebelah utara pojok paling barat juga ada sumbar mata air yang juga jernih. Bahkan saat sebelum saya jepret, ada bapak-bapak yang mengambil air disitu. Beliau bilang, “nggak apa-apa mas minum air ini. Bersih dan sehat kok”, sembari mengambil satu botol tanggung dari bekas minuman mineral yang dibawanya. Sementara dibagian utara paling timur ada pos jaga, tempat saya tadi mengisi buku tamu saat pertam tadi datang 🙂
mungkin tempat pemujaan :)

mungkin tempat pemujaan 🙂


Beberapa kali juga njepret bunga di halaman candi. Sampai akhirnya kurang lebih selama satu jam saya berada disana. Akhirnya saya berkemas-kemas untuk pulang. Dan saat pulang saya mengambil rute yang lain, karena medan kedatangan tadi sangat WOW kalau saya memaksakan diri. Saya menyusuri kali kecil yang juga sangat jernih, dimana beberapa anak asyik mandi, sementara beberapa orang tua mencucui disana. Asyik perjalanan kemarin, murah tapi cukup memuaskan 🙂
Gimana nurut masbro? Ada juga-kah situs peninggalan jaman dahulu kala di sekitar sampéan? Monggo kalau ada…siapa tau saya tertarik dan ingin datang kesana 😀
Jalan Pulang Menyusuri kali kecil

Jalan Pulang
Menyusuri kali kecil


pict : semua doc pribadi
klik untuk memperbesar

Related Posts

About Mas Wiro

Sedang belajar semua hal, terlebih belajar fotografi :) Baik dalam kesempatan perjalanan atau sharing dengan teman-teman... Semoga ada ilmu yang bermanfaat buat saya pribadi dan semuanya

Posted on 25 November 2013, in Budaya and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 28 Komentar.

  1. Mantab…. melok……. 😀

  2. Sumberawan opo sumber (rawan) ?beda mbah artinya

  3. wah pingin nyobak kesana…enak kaliyo 😀

  4. foto mburi motor iku gawe lensa opo mbah? kok blure asik.

  5. neng blitar akeh candi cilik-cilik masbro.

  6. Gak nemu keris,mbah??? 😀

  7. wah baru nyadar klo wordpressnya udah ilang 😀

Monggo Opini-nya Bro Sis, Bebas & Sopan Aja :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: